Feeds:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk ‘Polusi Udara di Jakarta’ Kategori

Pencemaran Udara Semakin Parah
Industri Otomotif Terapkan Standar Emisi Euro 2


Ist
POLUSI – Kontribusi polusi di kota Jakarta, 80 persen disebabkan oleh gas buang (emisi) kendaraan bermotor. Di kemacetan seperti ini, tingkat pencemaran lebih tinggi.

JAKARTA – Polusi udara akibat asap kendaraan di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya dan kota lain semakin parah. Hal ini berdampak serius bagi kesehatan manusia, sehingga penanganan harus cepat.
Kualitas udara yang buruk misalnya, telah mengakibatkan tiga juta orang meninggal di Asia.
Begitu Pernyataan Kiyoyuki Minato dari Japan Automobile Research Institute (JARI), dalam sebuah diskusi pada awal Agustus lalu yang diselenggarakan Mitra Emisi Bersih (MEB) di Jakarta.
Menurut JARI, pencemaran udara di Jakarta telah mencapai taraf amat serius dan mengkhawatirkan dibandingkan dengan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO). Pasalnya, selain debu, pencemaran udara oleh timbal (Pb) masih menunjukkan kategori pencemaran berat.
Data pencemaran Jakarta ternyata lebih “seram” sebab pencemaran oleh timbal paling berat terjadi di Jakarta ketimbang Tokyo, Beijing, Seoul, Taipei, Bangkok, Kuala Lumpur, dan Manila. Dampak yang diakibatkan pencemaran timbal bisa menyebabkan kematian, kemandulan, dan keterbelakangan mental pada anak- anak.
Pencemaran udara di Jakarta 80 persen berasal dari sektor transportasi, sisanya pencemaran dari sektor industri dan lain- lain.
Menurut Kiyoyuki, sudah saatnya Jakarta menerapkan standar emisi berdasarkan standar Euro 2.
Dalam diskusi itu terungkap, negara di Asia Tenggara lain seperti Singapura sejak tahun 2001 memakai Euro 2, Srilangka akan menerapkan Euro 2 di 2004 dan Euro 3 pada 2007, kemudian India sejak 2001 sudah menerapkan Euro 2 dan di tahun 2005 akan menggunakan Euro 3.
Sementara Uni Eropa sudah menerapkan standar Euro 2 sejak 1996 lalu, Euro 3 sejak tahun 2000 dan pada 2005 akan masuk ke Euro 4.
Standar Euro 1 adalah yang terendah pada tingkatan emisi gas buang di mana kandungan sulfur pada bahan bakar masih diizinkan di bawah 1.500 part per million (ppm). Euro 2 lebih ketat lagi yakni hanya memperbolehkan di bawah 500 ppm. Oleh sebab itu diperlukan hanya bahan bakar bebas timbal.

ATPM Siap
Agen tunggal pemegang merek (ATPM) sebenarnya sudah siap, jika pemerintah bakal memberlakukan standar Euro 2.”Tidak ada alasan bagi kami untuk menolaknya,” ujar Soebronto Laras, Presdir PT Indomobil Niaga International pada kesempatan lain.
Bahkan ditegaskan, tak ada alasan bagi pemerintah untuk menunda pemberlakuan kebijakan ini, apalagi ada isu yang menyebutkan penundaan ini terkait dari ketidakmampuan ATPM untuk mengantisipasi kebijakan ini. Dia justru balik bertanya sejauh mana kesiapan pemerintah untuk menerapkan kebijakan standar emisi tersebut.
Sebab, katanya, sampai kini Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) belum mampu menyiapkan BBM yang sesuai dengan standar Euro 2, terutama bebas timbal. BUMN tersebut hanya mampu menyediakan bahan bakar beroktan rendah di seluruh Indonesia, sedangkan untuk BBM berkualitas seperti Pertamax atau Pertamax Plus hanya bisa tersedia di beberapa kota di Pulau Jawa. ”Kalau kondisinya seperti ini, siapa yang salah? Jangan selalu menjadikan pengusaha sebagai kambing hitam. Sarana dan prasarana yang dimiliki Pertamina saja belum mendukung,” tandasnya.
Dia menepis anggapan pihak ATPM melakukan negosiasi agar tidak semua produk bisa dikenai standar emisi Euro 2.
Soebronto menegaskan, ATPM tak pernah meminta pengecualian untuk produk-produk tertentu saja yang diterapkan standar Euro 2, karena seluruh produk yang dipasarkan ATPM tingkat emisinya dapat disesuaikan dengan standar tersebut.
”Untuk produk yang lama, tinggal menambah katalisator pada mesin kendaraan. Biaya tambahannya sekitar US$250 hingga US$300,” paparnya.
Kemampuan produsen kendaraan menekan tingkat emisi akan menjadi salah satu daya tarik suatu produk otomotif di masa mendatang. Masalah emisi buang adalah salah satu prioritas dalam pengembangan usaha otomotif nasional ke depan. Perusahaan otomotif sepakat akan menerapkan langsung standar Euro 2.
”Kami sepakat langsung menerapkan standar Euro 2 tanpa melewati standar terbawah karena kami mampu untuk memenuhinya,” tegasnya.
Sementara Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Bambang Trisulo, mengakui masih terjadi pro dan kontra di kalangan industri otomotif tentang tingkat emisi yang mengacu pada standar Euro 2.
Menurut Bambang, banyak anggotanya yang setuju, tetapi ada juga yang tak setuju.
Saat ini, Gaikindo sedang menginventaris kendala dan daftar produk yang kemungkinan besar tidak bisa mengikuti standar itu. Ada produk yang tak mungkin mengikuti Euro 2, sehingga mereka harus beralih ke produk lain jika ingin tetap hidup.

Kualitas BBM
Berdasarkan kesepakatan awal dengan KLH itu, ungkapnya, pelaku industri umumnya setuju penerapan standar itu dilaksanakan 1,5 tahun setelah kebijakan itu diundangkan. ”Yang jelas, penerapan standar emisi ini butuh satu syarat, yakni Pertamina harus mampu menyediakan bahan bakar bebas timbal dan beroktan tertentu di seluruh Indonesia. Kalau tidak, maka percuma,” ujar Bambang.
Untuk mengikuti standar tersebut, tidak mudah. Sebab menurut Ahmad Syafrudin, Sekretaris Jenderal MEB, kualitas bahan bakar minyak kendaraan yang beredar di sini masih jauh dari yang ditetapkan oleh standar Euro 2. Misalnya bensin berdasarkan Euro 2 harus mengandung kadar olivin 18 persen,, sementara bensin buatan Pertamina masih berkadar olivin 60 persen.
Begitu pula kandungan sulfurnya maksimal menurut Euro 2 adalah 300 ppm, sedangkan bensin kita masih berkadar sulfur 5000 ppm. Selain itu kadar aromatnya juga mesti dikurangi. Belum lagi bahan bakar solar yang kadar sulfurnya cukup tinggi dan berbahaya bagi lingkungan.
Indonesia memang memerlukan pemberlakukan standar emisi dengan segera mengingat populasi kendaraan yang terus meningkat. Di tahun 2000 saja berdasarkan catatan Kantor Menteri Lingkungan Hidup, di Jakarta, Bekasi dan Depok terdapat 4,159 juta kendaraan.

Read Full Post »


Polusi udara terdiri dari partikel-partikel karbon berukuran sangat kecil, yang umumnya berasal dari kendaraan bermotor. Polusi udara tersebut akan masuk ke dalam saluran nafas anak-anak dan akhirnya mampu mengurangi fungsi dari paru-parunya.

Sebuah laporan terbaru dalam New England Journal of Medicine, diketahui bahwa terjadi penurunan kapasitas vital paru-paru pada anak sebesar 13%, untuk setiap 1 mcg2 kenaikan kandungan karbon dalam paru-parunya. Tingginya kadar karbon yang masuk tersebut berhubungan erat dengan menurunnya kadar fungsi paru-paru.

Penelitian tersebut dilakukan dengan melibatkan sebanyak 114 anak sehat dari suatu kota dengan tingkat polusi udara yang cukup tinggi. Para peneliti kemudian mengumpulkan contoh sputum (dahak) dari anak-anak tersebut dan dilakukan tes fungsi paru-paru menggunakan spirometry. Dari sejumlah anak yang dilakukan uji coba tersebut, hanya 64 anak yang layak diuji cobakan. Dari contoh sputum mereka, para peneliti kemudian menilai ada tidaknya kandungan karbon.

Para peneliti menemukan sejumlah karbon pada sejumlah sputum anak-anak dan hal itulah yang menimbulkan menurunnya fungsi paru-paru pada anak-anak. Untuk setiap peningkatan 1 mcg2 kandungan karbon, terjadi penurunan sekitar 17% volume ekspirasi paksa dalam satu detiknya, serta terjadi penurunan sebanyak 13% kapasitas vital paru-paru. Kapasitas vital paru-paru dinilai dengan cara secepat dan sekeras apa si anak membuang nafas.

Terjadinya penurunan fungsi paru-paru tersebut disebabkan karena banyaknya kandungan partikel pada paru-paru anak. Hasil tersebut disimpulkan setelah para peneliti membandingkannya berdasarkan berbagai faktor, seperti terpaparnya asap rokok atau polusi lainnya, indeks massa tubuh dan jenis kelamin. (New England Journal of Medicine, Juli 2006)

Sumber :  http://www.info-sehat.com/content.php?s_sid=1029

Read Full Post »

Di Indonesia, kendaraan bermotor merupakan sumber utama polusi udara di perkotaan. Menurut World Bank, dalam kurun waktu 6 tahun sejak 1995 hingga 2001 terdapat pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sebesar hampir 100%. Sebagian besar kendaraan bermotor itu menghasilkan emisi gas buang yang buruk, baik akibat perawatan yang kurang memadai ataupun dari penggunaan bahan bakar dengan kualitas kurang baik (misal: kadar timbal/Pb yang tinggi) . World Bank juga menempatkan Jakarta menjadi salah satu kota dengan kadar polutan/partikulat tertinggi setelah Beijing, New Delhi dan Mexico City. Polusi udara yang terjadi sangat berpotensi menggangu kesehatan. Menurut perhitungan kasar dari World Bank tahun 1994 dengan mengambil contoh kasus kota Jakarta, jika konsentrasi partikulat (PM) dapat diturunkan sesuai standar WHO, diperkirakan akan terjadi penurunan tiap tahunnya: 1400 kasus kematian bayi prematur; 2000 kasus rawat di RS, 49.000 kunjungan ke gawat darurat; 600.000 serangan asma; 124.000 kasus bronchitis pada anak; 31 juta gejala penyakit saluran pernapasan serta peningkatan efisiensi 7.6 juta hari kerja yang hilang akibat penyakit saluran pernapasan – suatu jumlah yang sangat signifikan dari sudut pandang kesehatan masyarakat. Dari sisi ekonomi pembiayaan kesehatan (health cost) akibat polusi udara di Jakarta diperkirakan mencapai hampir 220 juta dolar pada tahun 1999.

Mekanisme terjadinya gangguan kesehatan akibat polusi udara secara umum
Berikut ini beberapa mekanisme biologis bagaimana polutan udara mencetuskan gejala penyakit:
1. Timbulnya reaksi radang/inflamasi pada paru, misalnya akibat PM atau ozon.
2. Terbentuknya radikal bebas/stres oksidatif, misalnya PAH(polyaromatic hydrocarbons).
3. Modifikasi ikatan kovalen terhadap protein penting intraselular seperti enzim-enzim yang bekerja dalam tubuh.
4. Komponen biologis yang menginduksi inflamasi/peradangan dan gangguan system imunitas tubuh, misalnya golongan glukan dan endotoksin.
5. Stimulasi sistem saraf otonom dan nosioreseptor yang mengatur kerja jantung dan saluran napas.
6. Efek adjuvant (tidak secara langsung mengaktifkan sistem imun) terhadap sistem imunitas tubuh, misalnya logam golongan transisi dan DEP/diesel exhaust particulate.
7. Efek procoagulant yang dapat menggangu sirkulasi darah dan memudahkan penyebaran polutan ke seluruh tubuh, misalnya ultrafine PM.
8. Menurunkan sistem pertahanan tubuh normal (misal: dengan menekan fungsi alveolar makrofag pada paru).

Pengaruh polusi udara terhadap kesehatan jangka pendek dan jangka panjang

Pajanan jangka pendek

1. Perawatan di rumah sakit, kunjungan ke Unit Gawat Darurat atau kunjungan rutin dokter, akibat penyakit yang terkait dengan respirasi (pernapasan) dan kardiovaskular.
2. Berkurangnya aktivitas harian akibat sakit
3. Jumlah absensi (pekerjaan ataupun sekolah)
4. Gejala akut (batuk, sesak, infeksi saluran pernapasan)
5. Perubahan fisiologis (seperti fungsi paru dan tekanan darah)

Pajanan jangka panjang
1. Kematian akibat penyakit respirasi/pernapasan dan kardiovaskular
2. Meningkatnya Insiden dan prevalensi penyakit paru kronik (asma, penyakit paru osbtruktif kronis)
3. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin
4. Kanker

Polutan udara spesifik yang banyak berpengaruh terhadap kesehatan
1. Particulate Matter (PM)
Penelitian epidemiologis pada manusia dan model pada hewan menunjukan PM10 (termasuk di dalamnya partikulat yang berasal dari diesel/DEP) memiliki potensi besar merusak jaringan tubuh. Data epidemiologis menunjukan peningkatan kematian serta eksaserbasi/serangan yang membutuhkan perawatan rumah sakit tidak hanya pada penderita penyakit paru (asma, penyakit paru obstruktif kronis, pneumonia), namun juga pada pasien dengan penyakit kardiovaskular/jantung dan diabetes. Anak-anak dan orang tua sangat rentan terhadap pengaruh partikulat/polutan ini, sehingga pada daerah dengan kepadatan lalu lintas/polusi udara yang tinggi biasanya morbiditas penyakit pernapasan (pada anak dan lanjut usia) dan penyakit jantung/kardiovaskular (pada lansia) meningkat signifikan. Penelitian lanjutan pada hewan menunjukan bahwa PM dapat memicu inflamasi paru dan sistemik serta menimbulkan kerusakan pada endotel pembuluh darah (vascular endothelial dysfunction) yang memicu proses atheroskelosis dan infark miokard/serangan jantung koroner. Pajanan lebih besar dalam jangka panjang juga dapat memicu terbentuknya kanker (paru ataupun leukemia) dan kematian pada janin. Penelitian terbaru dengan follow up hampir 11 tahun menunjukan bahwa pajanan polutan (termasuk PM10) juga dapat mengurangi fungsi paru bahkan pada populasi normal di mana belum terjadi gejala pernapasan yang mengganggu aktivitas.

2. Ozon
Ozon merupakan oksidan fotokimia penting dalam trofosfer. Terbentuk akibat reaksi fotokimia dengan bantuan polutan lain seperti NOx, dan Volatile organic compounds. Pajanan jangka pendek/akut dapat menginduksi inflamasi/peradangan pada paru dan menggangu fungsi pertahanan paru dan kardiovaskular. Pajanan jangka panjang dapat menginduksi terjadinya asma, bahkan fibrosis paru. Penelitian epidemiologis pada manusia menunjukan pajanan ozon yang tinggi dapat meningkatkan jumlah eksaserbasi/serangan asma.

3. NOx dan SOx
NOx dan SOx merupakan co-pollutants yang juga cukup penting. Terbentuk salah satunya dari pembakaran yang kurang sempurna bahan bakar fosil. Penelitian epidemologi menunjukan pajanan NO2,SO2 dan CO meningkatkan kematian/mortalitas akibat penyakit kardio-pulmoner (jantung dan paru) serta meningkatkan angka perawatan rumah sakit akibat penyakit-penyakit tersebut.

Read Full Post »

Kota Jakarta Tanggal 31 Mei yang lalu ditetapkan sebagai hari tanpa rokok sedunia (World No Tobacco Day). Indonesia tidak turut ketinggalan ikut serta merayakan hari ini untuk membantu mengingatkan masyarakat akan bahaya merokok dan juga untuk mengurangi polusi udara dari asap rokoki. Kebetulan pada hari yang sama saya mendarat di bandara Soekarno-Hatta, Banten. Perjalanan yang saya lakukan kali ini dalam rangka berlibur, sekaligus mampir di Jepang bertemu rekan-rekan pengelola situs Kimia Indonesia. Karena pesawat Japan Airlines yang saya tumpangi mendarat sore hari, dari jendela pesawat saya dapat mengamati skyline ibukota di daerah sekitar bandara.

Dari dalam pesawat dapat saya saksikan gumpulan asap coklat yang tebal mengambang di atas kota. Ternyata berbagai macam polutan udara mulai dari asap rokok, asap kendaraan bermotor, asap bakaran sampah, asap-asap pabrik, dan lain-lain yang dikeluarkan secara terus-menerus selama bertahun-tahun telah membuahkan bukan saja pemandangan tak sedap, tapi juga dampak yang buruk. Saya yang tidak tinggal dan jarang mengunjungi ibukota, merasakan dengan jelas dampak polusi ini. Di dalam kota, ketika saya menengadahkan kepala menatap ke atas, terlihat langit Jakarta yang kecokelat-cokelatan dan suhu udara yang panasnya bukan main (efek rumah kaca). Dan ketika saya jogging keesokan paginya, nafas saya sempat sesak. Ditambah lagi saya jadi sering pilek dan bersin-bersin. Hal yang lazimnya tidak saya alami di kota kediaman tempat saya tinggal di AS.

Ternyata pengalaman saya bukan merupakan sesuatu yang aneh. Kolom popular Muda harian Kompas tanggal 4 Juni menurunkan artikel mengenai polusi Jakarta dengan judul “Gawat, Kita Dikepung Polusi”ii. Penulis artikel menulis, “orang yang hidup di kota besar kebanyakan menderita gangguan pernapasan, yang baru disadari setelah menjalar ke radang tenggorokan dan paru-paru.” Mungkin karena saya tidak terbiasa dengan udara Jakarta, gangguan pernapasan ini langsung dapat saya rasakan ketika baru sampai di sana.

Lain Jakarta, lain halnya kota New York. Kota metropolis dunia ini saya yakin menghasilkan polusi udara yang sama bahkan mungkin lebih banyak dari Jakarta. Tetapi selain memiliki paru-paru kota berupa taman umum Central Park yang luasnya sekitar 3,4 juta m2 ini, banyak usaha lainnya yang telah dilakukan untuk mengurangi polusi udara di kota New York. Di antaranya adalah larangan merokok di dalam berbagai tempat umum seperti restoran, pub, gedung-gedung perkantoran, hotel, dan sebagainya (baca artikel Bahaya Asap Rokok - Red). Keadaan cuaca dan letak geografis sebuah kota juga sangat menentukan. Kota New York yang karena letak geografisnya mengalami empat musim, memiliki musim dingin di mana udara dingin ketika musim gugur dan musim salju tiba menghalau kabut tebal polusi ini ke atas. Sedangkan di Jakarta yang tropis, asap polusi ini mengambang dan terus menumpuk di udara tidak jauh dari tanah, pemandangan yang saya lihat dari pesawat ketika akan mendarat.

Sadar akan bahaya polusi udara yang tinggi, pemerintah AS juga telah mengeluarkan Undang-undang Udara Bersih (Clean Air Act) pada tahun 1990iii. UU yang tebalnya 800 halaman ini sebenarnya telah dikeluarkan sejak tahun 1970, tapi banyak amandemen baru yang dimasukkan di UU tahun 1990.

Dampak buruk polusi udara ini sangat banyak. Satu di antaranya adalah hujan asam (acid rain). Amendemen tahun 1990 UU Udara Bersih AS menargetkan pengurangan emisi sulfur dioksida dan nitrogen dioksida sampai 50 persen. Hujan asam terbentuk ketika kedua senyawa kimia tersebut bereaksi dengan oksigen, air, dan senyawa-senyawa lainnya di awan untuk membentuk solusi asam sulfur dan asam nitrik yang lemah. Sebenarnya senyawa-senyawa kimia ini juga terdapat secara alami (letusan gunung merapi dan kebakaran hutan mengeluarkan sulfur dioksida), tetapi proses alami ini hanya menghasilkan sedikit hujan asam. Air hujan biasa memiliki tingkat keasaman pH sekitar 5.6, tetapi pH air hujan asam bisa serendah 4.3 (ingat jika memakai skala pH, senyawa yang memiliki pH 4 memiliki tingkat keasaman 10 kali lebih asam ketimbang yang memiliki pH 5)iv. Mineral-mineral seperti kalsium dan magnesium sebenarnya dapat menetralkan asam-asam di tanah. Tapi sejalan dengan waktu dan erosi, banyak tanah yang kandungan mineral-mineral pentingnya berkurang.

Hujan asam dapat meningkatkan tingkat keasaman sungai dan danau yang mengakibatkan matinya ikan-ikan dan penghuni habitat kedua tempat tersebut. Hujan asam juga dapat merusak bangunan dan properti lainnya, menodainya menjadi hitam. Hal ini kentara jika kita melihat gedung-gedung di Jakarta yang bagian atasnya kehitam-hitaman. Hujan asam juga terbukti memberikan efek buruk kepada kesehatan. Udara yang terkena siraman hujan asam telah dihubungkan dengan problema pernapasan dan paru-paru pada anak-anak dan orang-orang yang menderita asma.

Perlu kemauan keras pemerintah (yang tertuang dalam sebuah UU) dan perangkat pelaksananya untuk mengurangi tingkat polusi. Tidak ketinggalan juga partisipasi kita sebagai masyarakat. Artikel Muda yang disebut di atas memiliki 21 tips untuk mengurangi polusi. Hal-hal yang dapat kita lakukan sehari-hari:

  1. Mengurangi jumlah mobil lalu lalang. Misalnya dengan jalan kaki, naik sepeda, kendaraan umum, atau naik satu kendaraan pribadi bersama teman-teman (car pooling).
  2. Selalu merawat mobil dengan seksama agar tidak boros bahan bakar dan asapnya tidak mengotori udara.
  3. Meminimalkan pemakaian AC. Pilihlah AC non-CFC dan hemat energi.
  4. Mematuhi batas kecepatan dan jangan membawa beban terlalu berat di mobil agar pemakaian bensin lebih efektif.
  5. Meminimalkan penggunaan bahan kimia.
  6. Membeli bensin yang bebas timbal (unleaded fuel).
  7. Memilih produk yang ramah lingkungan. Misalnya parfum non-CFC.
  8. Memakai plastik berulang kali. Sampah plastik sulit diurai dan kalau dibakar menimbulkan zat beracun.
  9. Tidak merokok.
  10. Memilah antara sampah basah dan sampah kering dan menyediakan tempat untuk keduanya.
  11. Memfotokopi secara bolak-balik atau memakai kertas yang sisinya masih kosong. Menghemat kertas berarti mengurangi penggundulan hutan. Bumi yang hijau dapat menyerap polusi lingkungan lebih baik.
  12. Menggunakan lampu dengan kapasitas yang tepat.
  13. Bila kita menggunakan kamar kecil, jangan lupa mematikan air setelah kita pakai. Ingat, semakin banyak air terbuang percuma berarti kita turut memboroskan sumber daya alam.
  14. Menghiasi rumah dan lingkungan dengan tanaman asli.
  15. Kalau toilet menggunakan pengharum ruangan, pilih yang tidak mengandung aerosol.
  16. Jangan membuang sampah sembarangan, terutama di sungai, selokan dan laut.
  17. Menggunakan lebih banyak barang-barang yang terbuat dari kaca/keramik, bukan plastik atau styrofoam.
  18. Sebisa mungkin menghindari menggunakan barang/produk dengan kemasan kecil (sachet) karena akan menambah jumlah sampah.
  19. Membiasakan menggosok gigi dengan menggunakan gelas, bukan menyalakan keran terus-menerus. Jangan sia-siakan air bersih.
  20. Sebisa mungkin menggunakan lap atau sapu tangan untuk menggantikan tisu yang terbuat dari kertas.
  21. Mengurangi belanja yang tidak perlu agar tidak menimbulkan sampah di kemudian hari.

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.